Minggu, 05 Mei 2013

KONSEP BERHITUNG YANG MENYENANGKAN


Suasana berbelanja di Alfamart :
“Aku mau beli ini ah..”
“coba lihat, berapa harganya?”
“cukup ngga uangnya?,ayo kita hitung dulu”
“wah,,,cukup!!!aku mau beli ini”


Itulah sedikit percakapan anak-anak saat berbelanja hari Jum’at lalu. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai rangkaian tema kelas yang sedang membahas tentang mata uang Indonesia yang didalamnya terdapat pelajaran matematika yaitu dengan belajar konsep penjumlahan juga bahasa dengan membaca nama barang yang akan dibeli, misalnya susu,roti,biskuit.

Berangkat dari sekolah, anak-anak sudah siap dengan uang masing-masing yang diberikan oleh orang tua, uang tersebut mereka simpan di dompet yang mereka buat beberapa hari sebelumnya disekolah. Tiba di Alfamart, mereka mengambil keranjang belanja dan langsung sibuk dengan belanjaan masing-masing.

Mereka asik memilah milih apa yang akan dibeli, sibuk berkomentar apakah uang yang mereka bawa itu cukup, bahkan ada yang minta izin ke guru tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka beli. Oiya,,,sebelum berangkat ke Alfamart, sudah ada perjanjiannya lho, apa saja yang boleh mereka beli. Mereka hanya boleh membeli susu, biskuit, roti, selain itu tidak diizinkan.

Setelah selesai memilih susu, roti maupun biskuit yang akan dibeli, mereka langsung menuju kasir untuk membayar. Secara bergantian mereka membayar barang yang mereka beli. Waktu belanja pun selesai saatnya kembali ke sekolah. Tiba disekolah, masing-masing sibuk menghitung uang sisa belanja, dan uang dari sisa belanja mereka masukan ke dalam celengan sebagai tabungan yang nantinya celengan tersebut akan dibawa pulang oleh setiap anak dan diharapkan anak-anak melanjutkan dirumah kegiatan menabung ini.

Di kegiatan ini, anak-anak membawa uang sebesar Rp.10.000 dengan pecahan nominal Rp.5000, Rp.2000, Rp.1000. Dengan uang tersebut, anak-anak berbelanja makanan dan meghitung jumlah barang yang dibeli. Mereka juga menghitung berapa yang harus dibayar, berapa nilai belanjanya, seperti harga susu Rp.2500 + harga roti Rp.3000 =Rp.5500.

Kamis, 02 Mei 2013

Cooking-Serunya Bikin Getuk Singkong

Asiiikkkk,,,,cooking class, hari ini anak-anak Saraswati mau masak
 'getuk'. Membuat getuk ini dikarenakan masih berhubungan dengan tema kelas yaitu "Negaraku", jadi banyak hal yang akan dibahas dikelas seperti makanan tradisional ini.
Waahhh,,,,anak-anak sangat antusias sekali lho. bahkan saat guru sedang membahas tentang pulau-pulau di Indonesia, mereka masih sempat bertanya "Kak, kapan kita masaknya?"

Akhirnya saat untuk membuat getuk pun tiba. guru

mulai mengenalkan bahan-bahan untuk membuat getuk yang terdiri dari singkong, gula merah dan kelapa parut untuk taburan.

Untuk mempermudah anak-anak menghaluskan singkong dan mencampurkan dengan gula merah, sebelumnya singkong diparut kasar kemudian di kukus.
Anak-anak siap dengan piring dan sendoknya, setelah guru membagikan singkong dan gula merah, mereka mulai mencampur dengan cara sedikit menekan sambil diaduk.

"Enak kak"...wah! ada yang langsung mencicipinya.
"Lihat, punya aku sudah tercampur dan sudah hampir selesai"
Bahkan ada yang langsung melahapnya sampai habis walaupun belum tercampur rata dan minta tambah lagi.

Setelah selesai,,,,"Kak, punya aku sudah selesai dan mau dibawa pulang saja"
"Kak, aku sudah jadi nih"
Getuk yang sudah selesai dicampur, diberi taburan kelapa parut...."Waah...enak lho kak, aku mau buat, ah, dirumah sama mama"

Ternyata membuat makanan tradisional itu tidaklah sulit dan anak-anak pun menyukainya.

Selasa, 16 April 2013

Hati-hati saat memuji anak...


‘kamu pinter sekali…! gambarnya bagus!’Begitu biasanya kita terbiasa untuk memuji anak-anak kita.
Sebuah studi di ‘Journal of Experimental Psychology’ (http://www.wired.com/geekdad/2013/03/kids-with-low-self-esteem-the-parental-praise-paradox/) menyatakan bahwa ada dua cara untuk memuji anak:
-pujian yang terfokuskan pada diri si anak (disebut person praise);
- pujian yang terfokuskan pada perilaku yang tepat atau pada apa yang dilakukan oleh si anak untuk mencapai tujuannya (disebut process praise).
Menurut Brummelman dan Bushman, Person praise sangat berkaitan dengan konsep diri si anak. Karena seringnya mendapatkan pujian seperti itu, si anak jadi tidak ‘pede’ kalo belum mendengar kata-kata tersebut. Maksud kita memang baik, yaitu, meningkatkan rasa percaya diri anak, tapi si anak jadi ketergantungan dan ingin mendapatkan validasi dari orang lain mengenai apa yang sedang ia kerjakan, apalagi kalau si anak memang pada dasarnya sudah kurang percaya diri. Hal ini juga akan membuatnya takut atau enggan untuk mencoba sesuatu yang baru atau berbeda karena khawatir tidak akan mendapatkan pujian tersebut.
Bahaya dari Person praise adalah pujian ini bersifat global terhadap konsep diri anak – ‘aku anak pinter’. Sekalinya anak tersebut mengalami kegagalan, konsep dirinya pun langsung anjlok – ‘ternyata aku bukan anak pinter’.
Di lain pihak untuk process praise, pujian diarahkan pada hal yang bersifat lebih spesifik, dan terbatas pada suatu hal tertentu. Misalnya, si anak mendapatkan pujian mengenai cara ia menuang air – ‘O..bagus  sekali,  kamu tidak menumpahkan air sedikit pun saat menuangnya.’ Ada perasaan positif mengenai kemampuan diri si anak, dan ini mengembangkan percaya diri yang lebih kokoh – tidak mudah runtuh saat ia mengalami kegagalan dalam situasi yang berbeda.  Demikian sedikit sharing kami mengenai cara memuji anak… . 

Dari Sabang Sampai Merauke

Saat ini anak-anak Saraswati sedang mempelajari peta dunia. Mereka belajar mengenal berbagai benua di dunia dan dapat menyebutkan dengan tepat nama benua tersebut. Globe, peta, serta puzzle benua a la Montessori disediakan di kelas bagi anak-anak untuk menggunakannya.

Setelah mengenal benua, saatnya anak-anak mengenal berbagai pulau di Indonesia "Dari Sabang Sampai Merauke" ...Teachers sudah menyediakan berbagai gambar dari majalah dan koran yang merupakan ciri khas masing-masing daerah berupa binatang khas, jenis kostum, keindahan alam, kegiatan adat, dan lainnya. Ada juga slide show mengenai ciri khas daerah serta download tari daerah dari you tube yang ditunjukkan pada anak-anak. Wow, ternyata anak-anak cepat sekali hafal nama-nama pulau yang ada di Indonesia ya,,, Anak-anak juga belajar berhitung dalam bahasa daerah, seperti bahasa jawa, sunda, dan bali. Kebetulan ada teman-teman dari UNJ yang sedang melakukan observasi di Saraswati, ikut mengajarkan berhitung dalam bahasa daerah Aceh dan Palembang.Tentunya, tidak lupa anak-anak juga menari tarian daerah serta belajar menyanyikan beberapa lagu daerah. Begitu melekatnya lagu-lagu daerah sampai saat English time, mereka tetap menyanyikan lagu-lagu tersebut. Selain itu, untuk memperkaya materi di kelas, di areal discovery sudah tersedia berbagai alat musik tradisional yang bisa menjadi bahan eksplorasi lebih lanjut bagi anak-anak.

'Saatnya kita menjelajah Nusantara Dari Sabang Sampai Merauke', begitu kata teacher.
Anak-anak yang duduk menyimak penjelasan, memposisikan diri seolah-olah sedang naik pesawat lengkap dengan pilotnya juga lho.

Rabu, 10 April 2013

Disiplin Ala Murid Saraswati


Suatu hari ada  kehebohan di kelas, kelas sangat ribut,,,,wahh ada apa nih?
Hari itu anak-anak terlihat tidak tertib, mereka tidak berhenti untuk berteriak, berlari di kelas, bahkan bermain pun tidak tertib, banyak balok dan lego yang berserakan dimana-mana.
Bahkan saat English class pun suasana tetap ramai dan ribut, semua anak sibuk untuk berebut bicara.

Keesokan harinya, saat circle time, kejadian sehari sebelumnya dibahas. Teacher mendiskusikan tentang ketertiban di kelas. Disiplin apa yang akan diterima oleh anak-anak bila tidak tertib seperti berbicara sendiri saat teacher sedang bicara, berlari dikelas, berteriak, melempar mainan, tidak tertib dan sebagainya. Lalu teacher bertanya “yang akan mendisiplin teacher atau anak-anak?” lalu mereka serempak menjawab bahwa mereka sendiri yang akan mendisiplin jika tidak tertib dikelas.
Berikut kedisiplinan ala murid-murid Saraswati:
Panji: menyapu halaman
Timi: membersihkan kelas
Abigael: belajar satu hari penuh
Raia: duduk di belakang (ruang makan teacher)
Gian: merapikan mainan
Ekal: membersihkan mainan
Rayn: membaca di quite area
Bu Shoba: duduk di office tidak boleh masuk ke TK
Kak Tri: duduk di depan menggantikan Kak Ros jaga telpon

Itu semua merupakan perjanjian yang mereka (murid saraswati) buat sendiri apabila tidak tertib dikelas. Di Saraswati, banyak sekali hal-hal yang dapat didiskusikan bersama murid-murid, tidak hanya saat dikelas dan saat pelajaran berlangsung, bahkan mendisiplinkan anak-anak pun tetap berdiskusi dan dalam hal ini, mereka sendirilah yang menentukan disiplin apa yang akan diterima apabila tidak tertib maupun melanggar peraturan yang telah disepakati.

Selasa, 09 April 2013

Ke Museum Gajah (Museum Nasional)


Wooww….Kita akan melakukan kunjungan lagi (kehebohan di kelas),,,tapi kira-kira kali ini kita akan melakukan kunjungan kemana ya??
Ternyata kali ini kita akan ke Museum Nasional  yang biasa kita kenal dengan nama Museum Gajah.
Seperti biasa, anak-anak dengan wajah antusias dan semangat yang tinggi, sudah datang kesekolah jam 8 pagi, mereka sudah tidak sabar untuk jalan-jalan. Oh iya, khusus untuk kegiatan kunjungan, anak-anak tanpa pendamping lho, hebat ya mereka :)
Tepat jam 8:30 kita semua berangkat, di dalam bus, anak-anak sibuk dengan berbagai cerita dan komentar, seperti“ kak, nanti disana kita lihat apa ya?” “wah lihat,,itu kan Monas” “kak, kita kan pernah ke Monas ya?!” “aku pernah dong naik ke atas”
Dan banyak lagi celotehan mereka.

Akhirnya tiba juga di Museum Nasional, sementara anak-anak menunggu di mobil, Kak Nila turun untuk membeli tiket masuk. Setelah dapat tiketnya, kita semua bisa masuk deh.

Di dalam kita langsung disambut oleh seorang guide yang akan mengajak anak-anak Saraswati berkeliling museum sambil menjelaskan semua yang ada di dalam. Sebelum keliling, anak-anak mendengarkan sekilas tentang apa saja yang ada di museum. 

Ayoo,,,,sebelum kita keliling, bikin barisan yuk seperti kereta.
Persinggahan pertama, kita melihat manusia purba, disana anak-anak diajak untuk melihat berbagai fosil, benda-benda purbakala. Yang paling seru adalah saat anak-anak diajak untuk masuk ke gua, gua merupakan tempat tinggal manusia purba.

Setelah puas keliling disekitar tempat mausia purba, saatnya naik ke atas untuk liat peninggalan kerajaaan Indonesia zaman dahulu, yaitu kerajaan majapahit, disana kita semua diajak melihat benda-benda yang terbuat dari emas murni, untuk bagian ini, kita semua dilarang untuk memotret.
Setelah puas berkeliling, saatnya istirahat. Semua anak mengeluarkan bekal makanan dan mulai makan bersama sambil bercerita tentang kegiatan hari ini. Dan akhirnya, kita pulang dengan senyum merekah. tidak sedikit pun wajah lelah anak-anak, mereka tetap tersenyum, bercerita dan bercanda.


Kamis, 21 Maret 2013

Grouchy Lady Bug

Saat membacakan buku cerita yang berjudul Grouchy Lady Bug, anak-anak sangat serius menyimak, tetapi walaupun serius tetap diselingi percakapan sederhana yang mengajak anak-anak untuk dialog. Saat ditanya "apa sih yang menyebabkan kita ingin marah atau grouchy?", anak-anak menjawab:

Timi: when Rean takes a pin (Rean suka mencabut pin di papan display)
Ravi: when my friends are angry
Raia: when Sasa hits me
Rean: when friends don't want to play with me
Abigael: when Raia will not lend me her book
Ekal: when someone disturbs my play
Panji: when someone is angry with me
Gian: when Ekal disturbs when I read
Rayn: when I have to eat noodles

Kemudian teacher kembali bertanya, "When are we friendly?". Berbagai jawaban pun terlontar dari anak-anak, seperti:
Rayn: when I get kentucky chicken
Gian: when Rayn plays with me
Panji: when friends laugh
Rean: when friends want to laugh
Ekal: when I play
Ravi: when I have a swimming pool
Abigael: when Azka plays word game
Timi:when friends play
Raia: when Abigael plays with me.

Lalu teacher bertanya bagaimana merubah mood kita dari 'grouchy menjadi 'friendly'? Anak-anak menjawab: dengan cara:" play, say sorry, laugh, breathe, read book, play cars, walk together, play in the garden, eat, eat chicken and pudding".

Selesai dialog, anak-anak dengan semangat memainkan peran sesuai cerita 'The Grouchy Ladybug', apalagi teachers punya recording dari kakak-kakak kelas yang pernah memainkan drama tersebut.